Ab Ort Ion
![]() |
| Photo By : Ria Rahmadani |
Hari ini, pesan
pertama yang masuk ke ponsel saya adalah sebuah screenshot dari sebuah berita
mencengangkan. Di kota saya ada pelaku aborsi. Bercerita tentang hal seperti
ini sebenarnya agak sulit, karena akan membicarakan kehidupan banyak orang.
Bagi saya, kata ‘aborsi’
selalu membuat saya berpikir tentang hal negatif. Itu sama saja dengan
membunuh. Nyawa itu bukan punya kita loh, kita bukan produsen nyawa. Tentu lain
halnya jika itu dilakukan dengan prosedur yang benar dan persetujuan keluarga,
jika janinnya berbahaya untuk sang ibu misalnya. Hal itu memang dibolehkan
karena menyangkut nyawa sang ibu. Tapi dalam beberapa kasus, sang ibu rela
mengorbankan nyawanya agar anaknya bisa lahir dengan selamat dan tetap hidup.
Lain halnya dengan kasus aborsi yang kali ini saya dengar.
Berdasarkan info
yang simpang siur sejak beberapa hari yang lalu, telah ditemukan janin dalam
kloset di kamar mandi sebuah rumah sakit, tapi pelakunya tidak diketahui. Baru pagi
ini kabar tentang hal itu kembali ramai dibicarakan orang. Katanya, pelakunya
sudah ditangkap dan alasannya sepele, malu karena hamil di luar nikah, hubungan
gelap. Lalu kenapa dilakukan?
Wah sepertinya
pembahasan ini terlalu jahat...
Astagfirullah.
Aborsi adalah...
saya tidak ingin menjelaskan pengertiannya. Cari saja di Google ahjussi. Dulu saya
pernah melihat videonya, janin dipaksa keluar dan itu sangat mengerikan. Yang membuat
saya sangat tidak percaya dengan hal ini adalah bagaimana bisa seorang ibu tega
membunuh calon anaknya sendiri? Sementara banyak ibu di luar sana yang ingin
memiliki anak. Tidakkah dia berpikir kalau anak itu tidak bersalah? Tidakkah dia membayangkan akan merangkul seorang anak yang tertidur lelap? Membayangkan melihatnya menangis, tersenyum, bicara, dan menggenggam tangannya saat belajar berjalan.
“Mudah bilang
begitu, karena kamu bukan di posisi mereka.”
Pasti ada yang
mengatakan ini, kan?
Semoga tidak dan
jangan sampai hal demikian terjadi pada saya dan orang di sekitar saya. Aborsi adalah
nama lain dari membunuh. Tidak perlu bawa-bawa agama, bahasa kemanusiaan saja sudah
cukup. Di mana nurani seorang ibu saat tega membunuh anaknya yang tidak salah
apa-apa? Kalianlah yang bersalah karena melakukan hal yang tidak seharusnya.
Kesannya memang menyalahkan, tapi lebih dari itu saya hanya berpikir tindakan itu sangat disayangkan. Pernah lihat iklan
di televisi?
"Di setiap
kelahiran, lahirlah seorang ibu" (dan juga ayah).
Sebaris kalimat
ini sangat menyentuh bahkan bagi saya yang belum menjadi ibu. Ibu adalah posisi
manusia paling tinggi, paling mulia, paling baik pokoknya.
Jangan aborsi ya?
Please... anak itu tidak salah apa-apa.
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Day5


2 comments
Jangan pernah salahkan pihak lain ketika kita yang bersalah, dan jangan kuatir kan hidup anak anak kita, karena hidupnya dijamin Tihan
BalasHapusSetuju sekali!
Hapus