Ayah dan Gadis Kecilnya
![]() |
| Seorang ayah dan anak perempuannya yang sedang jalan-jalan sore |
Rumah sederhana berwarna putih gading dengan halaman luas dan penuh bunga.
Dua orang anak sedang bermain di halaman menemani ibu mereka yang sedang
merawat tanaman. Senin sore yang menyejukkan mata.
Kedua anak itu laki-laki
dan perempuan. Yang perempuan kelas 2 SD dan yang laki-laki masih balita.
Menggemaskan melihat mereka bermain dan berbicara dalam bahasa yang masih sulit
dimengerti orang dewasa, tapi sang kakak bisa paham dengan apa yang dikatakan
adiknya. Saat adik duduk memainkan batu ditangannya, kakak menghampiri
ibu.
“Ibu, kapan ayah pulang?”
Ibu menghentikan pekerjaan sejenak, menoleh dan berjongkok menatap gadis
kecilnya.
“Sebentar lagi, kenapa?” katanya sambil membetulkan kuncir rambut anaknya.
“Shila mau layang-layang,” jawabnya sambil memainkan jarinya.
Sang ibu tersenyum.
“Nanti kalau ayah pulang, kita beli layangan sama-sama.”
Shila mundur, menggeleng, menatap ibu dengan mata besarnya yang bening.
Mata itu adalah warisan kedua orang tuanya, bulat, besar, bening, dan bercahaya
oleh harapan dan semangat.
“Bukan beli, bikin sendiri, sama
ayah, kata ibu guru,” katanya polos.
Sang ibu tersenyum dan memeluk Shila, “Iya, nanti kita bikin layangan sama ayah.”
Shila kecil tersenyum girang, mencium pipi ibunya dan berterima kasih
sebelum kembali bermain bersama adiknya. Beberapa meter di dekatnya, senyum
ibunya lenyap. Ia tahu kalau sulit mewujudkan keinginan Shila, ayahnya adalah seorang
workaholic. Pekerjaan kantor yang
tidak ada habisnya selalu menyita waktu, ayah selalu terlambat pulang. Lembur
pun bisa sampai tengah malam, atau subuh. Saat pulang ia tidak bisa diganggu
karena harus tidur. Bangun pun ia harus ke kantor lagi, saat Shila ke sekolah.
Bisa dibayangkan betapa rindu Shila pada ayahnya. Demikian juga ayahnya, ia
hanya bisa mencium kening anak-anaknya saat ia pulang larut malam, ketika Shila
dan adiknya sedang tidur pulas.
Karena ini tugas sekolah, membuat layang-layang bersama ayah, maka ibu juga
berharap ayah bisa cepat pulang hari ini. Beruntung, menjelang maghrib suara
klakson mobil memasuki halaman rumah, ayah pulang!
Ibu, Shila, dan adiknya bergegas ke arah pintu menanti ayah turun dari
mobil. Dengan wajah lusuh setelah seharian bekerja, ayah menebar senyum
terutama kepada kedua buah hatinya. Menciumi pipi mereka satu persatu dan
menggendong mereka masuk setelah menyerahkan tas pada istrinya. Sungguh
keluarga kecil yang menghangatkan hati.
“Ayah, bantu Shila bikin layang-layang,
yah?” pinta Shila masih di gendongan ayahnya.
“Layang-layang?” tanya ayah heran. Ia mendudukkan kedua anaknya di kursi
ruang tamu, lalu berlutut di hadapan mereka. Si kecil asyik memainkan dasi
ayahnya, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
“Tugas sekolah, katanya bikin layang-layang sama ayah terus cerita di depan
kelas sambil nunjukin hasilnya,” kata ibu menjelaskan.
Shila tersenyum mengangguk-angguk, berterima kasih atas penjelasan ibunya.
“Waahhh... kalau ibu saja bisa nggak? Malam ini ayah harus kembali ke
kantor, lembur lagi,” kata ayah dengan nada penyesalan.
Shila menunduk sedih, beranjak dari kursi menuju kamarnya. Gadis kecil itu
merajuk, hatinya patah mendengar penolakan ayah. Di kamar ia menangis dan enggan menjawab saat ayah memanggilnya.
Ayah tidak tahu betapa pentingnya tugas Shila kali ini. Ia ingin menunjukkan
ke teman-temannya kalau ia punya ayah yang hebat dan bisa diandalkan. Ia iri
pada teman-teman yang sering diantar oleh ayahnya ke sekolah. Ia iri pada
teman-teman yang punya banyak cerita tentang ayah mereka.
“Shila, ayah berangkat dulu ya. Nanti kalau pulang ayah beli boneka,” bujuk
ayahnya dari balik pintu.
Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang masih terdengar. Sebenarnya ayah
juga tidak ingin seperti ini, tapi ia punya tanggungjawab lain yang harus
diselesaikan, pekerjaan. Setelah ini berlalu, ia bisa istirahat dan
memanfaatkan waktu bersama keluarga. Tapi Shila kecil tidak mengerti hal ini.
Ayah berangkat ke kantor setelah makan malam. Ibu mengantar sampai ke depan
mobil, tidak punya kalimat lain selain, “Cepat pulang dan jangan terlalu lelah.”
Wanita itu menatap wajah suaminya yang letih. Ia tahu kalau suaminya sedang
berjuang untuk keluarga, yang bisa ia lakukan hanyalah memberi semangat dan mendampingi
suaminya dengan penuh pengertian. Ia menatap mobil suaminya melaju hingga
hilang dari pandangan.
Tiba di kantor, ayah disambut oleh karyawan lain yang juga lembur bersamanya.
Satu jam bekerja, teleponnya berdering, dari istrinya.
“Halo?” jawabnya sambil terus menatap setumpuk kertas di depannya.
“Badan Shila panas sekali, sepertinya kita harus bawa ke dokter,” kata istrinya cemas.
Tanpa perlu bertanya lagi, ayah langsung membereskan barangnya untuk pulang.
“Mau ke mana, Pak?” tanya bosnya.
“Anak saya sakit, harus segera di bawa ke rumah sakit.”
“Bapak bisa kembali lagi setelah dari rumah sakit?”
“Mungkin tidak.”
“Tapi pekerjaan kita belum selesai, Pak.”
“Anak saya lebih penting! Terserah kalau bos mau memecat saya.”
Ayah pergi setelah membentak bosnya. Ia tidak peduli, di kepalanya hanya
ada bayangan tentang gadis kecilnya yang sedang sakit, gadis kecilnya yang
meminta dibuatkan layang-layang untuk tugas sekolah sedang sakit, hanya itu.
Jangan salahkan ayah, tidak ada yang mengerti perasaan seorang ayah ketika
tahu anaknya sakit dan dia tidak berada di sisinya.
Ia bergegas pulang dan menjumpai istrinya yang menunggu di depan pintu dengan tangan diremas, cemas.
Begitu tiba di kamar Shila ia segera memeluk putrinya dengan mata mengabur,
sedih. Ia menyesal telah mematahkan hati gadis kecilnya hanya karena pekerjaan.
“Ayah minta maaf, Shila. Ayah akan selalu di sini setiap Shila butuh. Ayah nggak akan kemana-mana lagi.”
#TantanganKe-2
#TantanganODOP
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#day8


3 comments
Cerita apa ini, kenapa endingnya penuh bawang merah.
BalasHapusManja dudui ini Shila
BalasHapusGurunya jg bapak na lagi i Shila nasuruh bkinkanki layangan... U dende... Kurang gaul ki ini ibu gurueee hari gini bkin layangan... Hammak...
Endingnha bikin haru 😢
BalasHapus