Mereka Teman-Temanku

by - Januari 03, 2018

Namaku Dewa. Mereka bilang usiaku 17 tahun dua hari lagi. Tapi aku tidak tahu, lebih tepatnya aku tidak ingat. Potongan memoriku hilang atau daya ingatku yang tumpul setelah kecelakaan itu, entahlah. Aku juga harus kehilangan sebelah kakiku. Ruangan rumah sakit penuh sesak oleh mereka yang datang menjenguk, aneh tak seorangpun yang ku kenal. Satu-satunya orang yang kuingat hanya ibuku. Dan namaku Dewa, hanya itu.

Dokter yang menanganiku berkata bahwa amnesia yang kualami hanya sementara, bila terus dicoba aku akan mengingat semuanya kembali. Mereka yang mengaku teman-temanku berkumpul menceritakan pengalaman hebat kami. Aku tidak menyangka pernah menjadi ketua perjalanan saat mendaki beberapa bulan lalu. Aku suka mendaki? Hei...ayolah, aku tidak mengingat apapun. Aku merasa bersalah menampakkan wajah tak bersemangat saat mendengar cerita teman-temanku. Mereka sangat cerewet. Tidak, bukan mereka, hanya satu orang, gadis berkuncir ini. Dari tadi dialah yang paling semangat bercerita. Aku memandangnya, lekat, dan semua terdiam. Dia juga menatapku, mendekatkan wajahnya, menyelidiki apakah aku bisa mengingat sesuatu. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya di keningku.

"Auww....kamu mau mati ya?" kataku mengusap keningku yang sakit.

Semua diam, lebih diam dari sebelumnya.

"Dewaaa.....kamu kembali!" semua tiba-tiba memelukku. Terutama gadis berkuncir di depanku.

Aku berusaha melepaskan diri, tak tahu apa yang terjadi. Mungkin karena heran dengan ekspresiku, gadis berkuncir itu menjelaskan.

"Kamu selalu bilang itu kalau kepalamu di jitak seperti tadi."

No respon. Aku masih belum ingat. Sepanjang jam besuk mereka berusaha mengingatkanku pada banyak hal, tapi tak satupun berhasil. Waktu besuk habis, mereka pamit dengan tampang lesu terutama gadis berkuncir tadi. Sebenarnya dia satu-satunya perempuan, temanku yang lain laki-laki. Baru setelah mereka pulang, ibu menjelaskan kalau gadis berkuncir itu adalah sahabatku, Ana. Aku tersenyum, pantas saja dia berani menganiaya keningku. Dia sahabatku.

Keesokan harinya, Ana kembali datang, sendiri. Kali ini dia membawa apel, katanya itu buah kesukaanku. Dan benar, sambil bercerita aku menghabiskan semua apel yang ia bawa. Menyenangkan mendengarnya berkelakar, tertawa riang, memasang wajah marah, aku terhibur. Pantas jika kami bersahabat, aku suka semua tingkah lakunya yang lucu dan ceroboh.
Malam itu aku tidak bisa tidur, ibu sudah terbaring lelah, lelap di karpet samping ranjangku. Aku tidak tega membangunkannya karena terus berganti posisi tidur. Jadi aku bangun dan berjalan ke dekat jendela. Membuka tirainya, tampak diluar sedang purnama, benderang, indah. Mungkin karena asyik memandang wajah purnama aku tidak sadar sudah ada orang yang berdiri di belakangku.

"Surprise!!!!" teriak teman-temanku. Ana ada diantara mereka. Ibu juga ternyata sudah bangun. Entah bagaimana mereka meminta izin masuk tengah malam begini.

"Teriakkan satu keinginan kamu sebelum tiup lilin," Ana berseru.

Keningku berkerut, tapi aku melakukan yang ia katakan, tentu saja aku tidak berteriak. Meskipun aku amnesia, aku tahu ini rumah sakit. Sangat tidak sopan berteriak apalagi tengah malam seperti ini.

"Aku ingin ingatanku pulih, dan kalian tetap jadi teman-temanku. Hufff!!" Belasan lilin kecil diatas tart itu padam.

Tepuk tangan pelan terdengar, mereka juga tahu ini rumah sakit. Ada banyak kado, kecil hingga besar, terbungkus rapi sampai paling berantakan. Hahaha....aku sangat bahagia. Ini benar-benar ulang tahun yang menyenangkan. Kami berpesta kecil hingga semua lelah dan tertidur.

Pagi yang cantik di hari pertama usiaku yang ke-17, aku terbangun diantara teman-temanku yang tidur bagai ikan terdampar. Aku menoleh ke ranjangku, di sana tertidur pulas sahabatku yang cantik. Tiba-tiba keajaiban besar itu datang. Aku mengingatnya, ingatanku pulih! Jantungku berdegup kencang. Aku bangun mendekati ibu yang masih terlelap, mencium pipinya, punggung tangannya. Lalu menoleh pada Ana yang baru bangun. Belum sempat ia mengusap wajahnya, aku mendekat memeluknya, mengatakan ingatanku pulih. Ia menjerit dan membangunkan seisi kamar.

"Ingatanku pulih," aku memandangi mereka satu persatu.

Mereka berhamburan memelukku. Terima kasih Tuhan, ini kado terindahku.

Oh iya, aku lupa. Teman-temanku ini penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Berbeda dengan Ana, dia tuna netra. Gadis cantik itu tidak bisa melihat dunia yang indah ini.



You May Also Like

2 comments