Pohon Nangka Di Halaman Rumah
Masih setengah sadar saat kubuka mata karena mendengar sesuatu yang
berisik. Suara berisik itu berasal dari sapu lidi seorang wanita yang sedang
membersihkan halaman rumah. Dengan daster cokelat selutut dan rambut panjang yang
di ikat seadanya, dia menyapu dedaunan dan sampah-sampah kecil yang berserakan
di halaman.
“Ini masih terlalu pagi,” keluhku dalam hati.
Tak lama kemudian, seorang anak perempuan keluar dari rumah. Seragam putih
abu-abu yang lengkap rapi, rambut pendek sebahu tergerai basah. Dia baru potong
rambut, kemarin rambutnya masih panjang.
“Oh, benar-benar sudah
pagi,” gumamku.
Selanjutnya ku tatap
pemandangan di depanku lagi.
“Dae, pamit dulu sama
Ibu,” kata wanita itu menghentikan langkah putri semata wayangnya.
Anak perempuan yang
bernama Dae itu berbalik, mendekat dan mencium punggung tangan ibunya.
“Dae berangkat,” katanya
kemudian berlalu.
Aku tidak tahu di mana
sekolahnya, yang kutahu dia berangkat sekolah setiap hari dengan jalan kaki,
kadang sendiri, kadang ada beberapa teman yang bersamanya, laki-laki dan
perempuan. Mungkin sekolahnya dekat dari rumah, makanya mereka jalan kaki.
Ibu itu masih terus
menyapu hingga semua sampah itu bertumpuk. Ia kemudian membakarnya tanpa sadar
asap pembakaran itu menghalangi pandanganku. Tapi aku diam, selalu diam. Aku
bisa menunggunya sampai semua sampah itu terbakar habis.
Siang hari, Dae pulang
dari sekolah. Ada yang aneh di wajahnya, ransel yang seharusnya di punggung ia
seret hingga menyentuh tanah. Ada ibunya yang mengikuti di belakang.
“Aku tidak melihat wanita
itu keluar rumah, ada apa dengan mereka?” kataku pada diri sendiri.
“Dae, kenapa? Kenapa kamu
bisa bertengkar dengan teman-temanmu?” tanya ibunya.
“Mereka pantas kok
dipukul.”
Jawaban ketus Dae membuat
ibu meraih lengannya, mereka bertatapan.
“Kenapa?” suara ibu
meninggi.
Dae diam, tampak wajahnya
mengerut marah, menatap tajam ke arah ibu.
“Kamu itu perempuan,
sudah SMA, sebentar lagi kamu lulus, kenapa sifat kamu bisa seperti ini sih?
Kalau begini...”
Dae melepas pegangan
ibunya dan menghempas tasnya ke tanah, lalu menendangnya ke arahku yang sudah
diam sejak tadi menyaksikan mereka bertengkar.
“Mereka bilang ibu
pelakor! Mereka bilang ibu pelacur! Mereka bilang aku anak haram!”
Tangis Dae pecah. Marahnya
hilang berubah jadi duka mendalam. Air mengalir dengan deras di pipinya, tapi
ia tidak bersuara. Ibunya diam menatap pedih.
Aku tahu apa yang
dirasakan ibunya. Semua yang Dae dengar dari teman-temannya tidak benar, aku
saksinya. Aku di sini sejak mereka pindah rumah. Aku tahu Dae punya seorang
ayah, tapi meninggal saat Dae dilahirkan. Dan sejak saat itu, ibunya yang
membesarkan ia seorang diri. 24 jam aku di depan rumah ini, tak pernah seorang
pun laki-laki yang datang ke rumah, kecuali petugas PLN, pengantar galon, dan
ojek yang hanya sampai di depan pagar.
Aku tumbuh bersama Dae.
Orang tua Dae menanam dan merawat hingga aku sebesar ini. Akulah pohon nangka
yang tumbuh besar di halaman rumah. Yang daunku disapu oleh ibunya setiap hari.
Aku melihat semuanya. Aku tahu betul bagaimana keluarga kecil ini.
Jahat sekali mereka yang
mengatakan itu pada Dae!
#day4
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
| Photo By : Ria Rahmadani |

1 comments
aku merinding bacanya masa, coba dikit lagi bikin konflik lebih menegangkan aku jamin bakal nangis nih. kece tulisanmu kak. Sukaaa
BalasHapus