Hujan Turun Lagi

by - Mei 21, 2016

Hujan betah sekali hari ini. Apakah banyak orang yang merasa sedih? Mungkin. Tapi saya rindu, merindukan. Entah itu sebuah tempat, kejadian, atau seseorang. Memandang langit-langit kamar semakin memperjelas kerinduan itu. Ya, saya merindukan sebuah moment bersama seseorang, di hari hujan. Ahh....resah dan gelisah, kantuk justru datang lebih awal. Cuaca sangat mendukung.

Hujan yang jatuh masih jelas terdengar di atap rumah. Membuat saya ingin menulis lebih banyak. Ingin membahas hal-hal yang dirindukan itu, tapi tidak ada telinga. Jadi ya sudahlah...tulis saja.

Sore itu, pikiran sedang kalut, saya tidak bersemangat sama sekali, dan hujan turun tanpa henti. Lengkap sudah. Di teras, saya memandang langit yang terbungkus awan tebal sambil terus memohon agar hujan berhenti. Tapi, hujan selalu berhasil, selalu. Dia selalu mampu menurunkan mood. Saya tidak suka hujan!

Beberapa orang mengajak berbincang, tapi hanya sebentar, setelah mereka pergi, orang itu datang. Seseorang itu datang dan duduk di samping saya, mencoba menghibur. Tentu saja tidak berhasil, saya tahu pikirannya lebih kalut dibanding saya.

Sambil terus menatap langit, saya berkata, "Hujan sangat mengerti kalau saya sedang tidak baik-baik saja."

Dia menoleh dan tersenyum, "Yang kau alami tidak seberat yang saya alami."

"Memangnya apa yang kau pikirkan?" saya menoleh padanya.

Seperti biasa, dia menjawab dengan senyum dan menggeleng. Saya juga tidak se-kepo itu menanyakan urusan orang lain, jadi saya tidak bertanya lagi. Meski sebenarnya saya ingin tahu. Tapi sudahlah...

Berdua kami memandang hujan dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba dia berkata, "Kau masih enak karena hanya di satu sisi, tapi saya dari dua sisi."

Sumpah demi apapun, saya tidak mengerti dengan ucapannya. Saya hanya menatapnya dengan senyum tanggung. Setelah mencerna kalimat itu baik-baik, akhirnya otak tumpul saya bisa sedikit memahami. Dari ucapan itu, saya menyimpulkan kalau saya tidak boleh hanya melihat dari satu sisi. Saya harus memandang sesuatu dari segala sisi. Meski itu rumit dan saya lebih suka yang simpel. Mengapa harus dibuat rumit jika itu hanya perkara sederhana? Tapi tidak dengan penilaian suatu masalah.
Namun sepertinya, bukan itu yang dia maksud.

Saya merindukan moment itu, ketika ada hal lain yang saya pikirkan saat hujan turun. Saya rindu orang itu, seseorang yang menemani ketika hujan, mood, dan kekalutan bertemu. Mungkin untuk menenangkan saya, dia memeluk selama beberapa saat. Hujan masih turun.

Dalam beberapa kesempatan, saya menjadikannya ide tulisan. Dia inspirasi menulis saya. Terima kasih  ^_^

You May Also Like

0 comments