Kenapa Saya Menulis
Halo..
Entah dengan mood yang seperti apa, saya menulis ini. Beberapa waktu yang lalu, saya mengirimkan naskah ke sebuah penerbit dan akhirnya terbit bertepatan dengan ulang tahun Shinichi (4Mei). Hanya saya yang tahu rasanya. Ternyata seperti itu rasanya, hasil dari ketikan-ketikan yang mampu membuat jari keriting akhirnya dijadikan buku! It's awesome!!!
Bangga. Iya, saya bangga bisa menulis sebuah buku, meski hanya terbit indie. Tapi setidaknya saya membuktikan kalau saya bisa, bukan hanya bicara. Meski tidak sehebat penulis lain, saya akan tetap menulis, tidak ada yang bisa mengubah itu.
Saya menghargai dan berterimakasih atas semua dukungan orang-orang yang percaya pada kemampuan saya. Semoga buku pertama saya ini bermanfaat dan memuaskan pembacanya. Amin.
Di sisi lain, saya sebenarnya malu jika tulisan saya dibaca banyak orang. Saya takut ada yang salah. Tapi sekali lagi, dukungan orang-orang itu menepis semua pikiran buruk saya.
Tapi ada satu hal yang membuat saya malas membicarakan buku saya. Royalti. Yap, bayaran yang saya terima karena penjualan buku. Banyak yang mempertanyakan itu. Tapi saya tidak menanggapi. Mau dijawab bagaimana? Kenapa banyak yang mempertanyakan itu? Kenapa semua orang hanya memikirkan uang? Alasan saya menulis bukan untuk itu. Kalaupun iya, dia akan ada diurutan kesekian. Bukan yang utama.
Dulu hingga sekarang, alasan saya menulis adalah karena saya suka. Titik. Alasan yang lain? Karena saya tidak bisa meneriakkan semua yang ada dalam kepala. Dua hal itu terus menjadi alasan saya menulis hingga saat ini. Namun, beberapa waktu yang lalu, saya menemukan alasan lainnya. Saya menulis karena orang yang saya cintai, suka membaca......nya.
Intinya, orang menulis tidak selamanya untuk uang. Beberapa dari kami hanya melakukannya sebagai hobby, bukan pekerjaan. Tapi jika orang-orang menganggap seperti itu, ya sudah. Hidup ini terdiri dari berbagai sudut pandang. Ada hal-hal yang tidak perlu dunia tahu.

0 comments