Pelajaran dari Seekor Kucing

by - Mei 29, 2016

Kucing adalah seekor karnivora. Selain memakan daging, mereka juga memakan tumbuhan. Meski begitu, mereka tidak memangsa kaumnya, yaitu sesama kucing. Berbeda dengan ular.

Beberapa minggu yang lalu, kucing yang sering datang ke rumah, melahirkan. Satu ekor. Yap, hanya satu ekor. Dia sangat menyayangi anaknya yang corak bulunya sangat mirip dengannya. Anak kucing yang lahir satu-satunya itu belum genap berumur satu bulan, jadi belum bisa berjalan dan melihat sempurna. Ia juga masih menyusu pada ibunya.

Yippo, sebutan saya untuk induk kucing itu. Dia sangat ramah. Selalu menggosokkan badannya di kaki saya. Bulunya bersih dan lembut, kakinya juga halus, meski dia kucing kampung. Sejak dia melahirkan, dia semakin sering ke rumah meminta makanan. Saya biasa memberinya sepotong ikan dan nasi yang sudah disiram dengan kuah ikan. Rasanya juga sedih, bila dirumah sedang tidak ada ikan, dia akan terus mengeong.

Anaknya, yang belum sempat saya beri nama, pernah saya lihat beberapa kali. Karena Yippo membawanya ke rumah. Anaknya masih sangat sensitif, ketika akan menyentuh kepalanya, dia membuka mulut dan berlagak seolah mengamcam. Itulah mekanisme pertahanan dirinya, karena belum mengenal saya. Yippo pun mengawasi saya kalau-kalau anaknya disakiti.

Tapi kemarin malam telah terjadi hal buruk, anak Yippo diserang oleh seekor anjing. Entah bagaimana caranya, anak Yippo sudah mati ketika ibu saya menemukannya pagi itu. Saya disuruh membereskan bangkainya. Mana mungkin? Melihatnya saja saya tidak sanggup.

Ahh.....anjing jahat!!! Kenapa dia harus memangsa kucing kecil itu? Hidupnya baru beberapa saat. Dia pun anak satu-satunya dari ibu yang kesepian. Dunia memang jahat!!! Dunia memang keras!!! Yippo harus bertahan. Saya kira dengan kejadian itu, dia akan was-was mendekati saya, ternyata tidak. Yippo tetap seperti biasanya.

Tapi hal yang membuat saya sangat terkejut hari ini adalah keberanian Yippo. Tidak biasanya, kalau saya membelai bulunya atau menggaruk-garuk lehernya, dia pergi menjauh. Ternyata dia melihat sesuatu. Mata dan penciumannya yang tajam membuatnya menggeram dan berlari secepat kilat. Saya menoleh dan tahu apa yang terjadi?

Sambil menggeram marah dan berlari sangat cepat, Yippo mengejar seekor anjing besar berwarna cokelat gelap. Wow! Saya terpana. Tidak butuh waktu lama untuk saya menyadari, kalau anjing itu yang telah membunuh anaknya. Bagus, Yippo. Kau hebat!!!

Pelajaran dari seekor kucing, walau bagaimana pun, dia tetaplah seorang (seekor) ibu bagi anaknya. Tidak ada bedanya dengan manusia. Jadi bisakah kita hidup berdampingan secara damai? Terutama pada kaum kita sendiri, manusia.

You May Also Like

0 comments