Mianhe

by - Mei 17, 2016

Sudah sejak lama saya mengenalnya. Beberapa tahun yang lalu, saat kuliah, kami bernaung di bawah rumah yang sama, Himatepa. Sejak pertama mengenal seseorang, kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan selanjutnya. Banyak hal yang saya alami bersama anak ini, bersama teman-temannya juga, tapi kali ini saya ingin membahas dia saja.

I Wayan Balik M. Tekpert 09 yang menjadi salah satu junior di kampus yang dekat dengan saya. Menjengkelkan, suka maksa, garing, manja, tapi kata temannya dia tidak suka marah. Baguslah.

Kenapa kali ini ingin membahasnya? Terjadi sesuatu? Mungkin, saya merasa dia sudah berubah. Dia tidak seperti Wayan yang saya kenal dulu. Sekarang dia lebih dewasa, bukan lagi anak kecil seperti dulu. Waktu benar-benar berjalan.

Sebenarnya, saya punya banyak salah pada anak ini. Tidak terhitung sudah berapa kali saya berbuat salah padanya. Tapi dia TIDAK PERNAH marah dan tetap menganggap saya kakaknya (mungkin). Jika kamu tahu kesalahan apa saja itu, kamu akan mengomeli saya dengan seribu bahasa.

Saya ingin minta maaf, tapi dia pasti bersikap seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi. Paling dia hanya bilang, "Mentong kita," setelah itu pindah pembahasan.

Sekarang dia bekerja di kota tempat tinggal saya, tapi kami tidak pernah bertemu. Saya juga melarangnya ke rumah (hehe..kalau soal ini tidak usah dibahas). Mau dihubungi takut dia sibuk, dihubungi pun saya tidak tahu mau bahas apa. Ahh....begitulah pokoknya.

Dari dulu hingga sekarang, dia juga termasuk list orang-orang yang sering direpotkan. Merepotkan orang lain, itu memang kebiasaan saya. Saya juga pernah meminjam kamera, dan menghilangkan tutup lensanya. Jika itu saya, pasti saya sudah marah. Tapi dia? Ah, anak ini. Kapan dia bisa marah?

Dulu, dia sering curhat. Sekarang tidak pernah lagi. Mungkin karena kesalahan fatal saya dulu. Saya masih merasa berdosa karena hal itu. Mungkin dia sudah lupa, tapi saya tidak bisa. Belajar dari kesalahan itu, sekarang saya hanya banyak mendengar. Kadang menulisnya seperti ini, jika tidak bisa keluar lewat mulut.

Dari semuanya, dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Dia hanya menyimpannya sendiri, dia pasti marah tapi tidak menunjukkannya pada orang lain. Ada hal-hal yang tidak perlu dunia tahu.

Satu hal yang saya syukuri, dia masih menganggap saya ada. Dia masih baik seperti biasanya. Terima kasih. Bangga bisa mengenalmu.

MINTA MAAF KA WAYAN, BANYAK SALAHKU :-(

Teruslah menjadi dirimu sendiri, jangan menyerah. Selama ini pasti banyak hal yang harus kau lalui sendiri, tapi bisa bertahan kan? Hidup itu permainan. Kau tidak harus menang dalam setiap pertarungan, cukup bertahan sampai akhir. Tsahhhh!!!!

Jangan suruhka tulis lebih banyak.
Done!

You May Also Like

0 comments