Resensi Novel Tentang Kamu - Tere Liye

by - Januari 14, 2017

Judul Buku: Tentang Kamu
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal: 524 hlm ; 13.5x20.5 cm
ISBN: 978-602-08-2234-1

Sebuah buku yang luar biasa. Tentang kisah seorang perempuan yang meninggal di sebuah panti jompo kota Paris dan meninggalkan warisan senilai satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah. Warisan yang sangat banyak itu diserahkan penyelesaiannya pada sebuah firma hukum terkenal di London, agar bisa diselesaikan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku. Tapi masalahnya, informasi tentang perempuan ini sangat sedikit, terlebih lagi dia tidak mempunyai ahli waris. Dari sinilah, seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnaen menerima tugas berat pertamanya. Seorang pria berasal dari Indonesia berusia tiga puluh tahun. Dia berhasil masuk ke firma hukum Thompson & Co. karena memberi jawaban mengesankan pada saat interview. Dia mendapatkan tugas ini karena kebetulan klien mereka (perempuan itu) adalah orang Indonesia, jadi dia diharapkan dengan mudah mencari tahu dan menyelesaikan masalah pembagian warisan ini secepatnya sebelum diambil alih oleh kerajaan Inggris (pemerintah London).

Sri Ningsih, nama perempuan itu. Dia meninggal di panti jompo dan membuat tegang firma hukum tempatnya mengirim surat 'kuasa' itu. Karena itulah Zaman terbang dengan jet pribadi milik firma hukum tempatnya bekerja, menuju Indonesia untuk menelusuri kisah hidup Sri demi mencari ahli waris atau petunjuka apapun mengenai itu. Tujuan pertamanya di pulau Bungin, pulau kecil dimana Sri menghabiskan masa kecilnya. Setelah beberapa hari berkeliling, Zaman dan tour guide-nya tidak menemukan apapun, tapi saat hendak pulang, titik cerah itu terlihat. Dia menemukan seseorang yang tahu kisah Sri kecil. Dialah Ode, anak kepala kampung. Dari Ode, Zaman mendengarkan kisah yang sangat panjang tentang Sri. Mulai dari cerita kedua orang tuanya, saat ia dilahirkan, ibu baru, adik, kekejaman ibu tiri, hingga kebakaran besar yang menewaskan ibu tirinya. Sri sangat terpukul, bersama adiknya yang masih berusia 5 tahun, dia meninggalkan pulau Bungin dan menuju Surakarta, sebuah madrasah tempat kenalan gurunya di sekolah. Di Madrasah itulah, masa remaja Sri dilalui. Ia menemukan rumah baru, sahabat, pengetahuan baru, dan bonus belajar menyetir. Sri adalah anak yang rajin, cerdas, dan berhati mulia.

Memasuki usia dewasa, terjadi pengkhianatan oleh sahabatnya sendiri, Sulastri. Madrasah diserang, oleh penduduk yang menyebut dirinya 'pembela keadilan'. Semua pelaku ditangkap, sebagian mati ditembak. Karena kejadian itu, Sri memilih pergi dari Madrasah tanpa adiknya, karena ternyata adiknya juga meninggal. Dibunuh oleh pengkhianat kejam itu. Sri memilih Jakarta untuk memulai hidup baru. Disinilah asal muasal semua kekayaan yang Sri miliki. Ia berkeliling mencari pekerjaan yang sangat susah, hingga akhirnya dia menemukan satu pekerjaan. Sedikit demi sedikit ditabung dan Sri membuka usaha pertamanya, jualan nasi goreng dengan gerobak, berhasil. Tapi lama kelamaan penghasilan berkurang karena banyak yang mencontoh model jualannya. Akhirnya dia membuka usaha lain, rental mobil. Juga berhasil tapi harus berakhir pilu karena sebuah demo mahasiswa yang berubah anarkis dan membakar seluruh mobil. Sri gagal lagi. Tapi bukan Sri namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia kembali mencari pekerjaan dan bekerja disebuah pabrik sabun. Dari sana ia menunjukkan ketelatenan seorang pegawai. Sri selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. Dia sudah terbiasa sejak kecil, tidur pukul 12 malam dan bangun pukul 4 pagi.

Dengan semua kegigihan itu, Sri berhasil mendirikan sebuah pabrik sabun sendiri. Terus melakukan inovasi sehingga perusahaan makin berkembang. Ditengah keadaan yang bagus itu, Sri justru memilih meninggalkan Jakarta. Pergi tanpa pamit setelah menyerahkan pabrik pada orang kepercayaannya. Kemana tujuan Sri selanjutnya? London. Sama kerika di Jakarta, disana ia juga mencari pekerjaan dengan susah payah dan akhirnya diterima menjadi Supir Bus. Disinilah kisah cinta Sri berawal. Seorang laki-laki dari Turki rela menaiki bus yang Sri bawa hingga persinggahan terakhir padahal tempat kerjanya ada di daerah yang berlawanan dengan arah bus. Kisah cinta yang sederhana namun indah. Laki-laki itu menemui keluarga angkat Sri (yang ternyata keluarga India) lalu menikah dan tinggal di gedung apartemen itu. Banyak cinta dan pengorbanan yang lahir di sini. Bagian paling menyedihkan adalah ketika Sri hamil dan melahirkan namun anak pertamanya meninggal sebelum ia sadar. Anak kedua juga meninggal setelah enam jam melihat dunia. Semua kesedihan itu semakin lengkap ketika suaminya juga meninggal. Separuh hidup Sri hilang, namun ia tetap bekerja meski tidak seantusias dulu.

Sri kembali pergi diam-diam. Meninggalkan selembar surat tanpa penjelasan ia akan kemana. Sri pergi ke Paris, tinggal di sebuah panti jompo hingga akhir hayatnya tanpa seorang pun tahu. Zaman mengetahui semua cerita itu hanya dalam waktu 9 hari, setelah mengunjungi beberapa kota, di dua benua. Amazing!

Apakah Zaman bisa menemukan ahli waris Sri? Ataukah ada peristiwa lain yang belum diketahui Zaman? Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Pengetahuan tentang dunia bisnis, tegarnya seorang Sri Ningsih yang meski dijatuhi cobaan berkali-kali tidak pernah membuatnya sedih apalagi menyerah. Kekuatan hati dan kesabaran yang akhirnya mendapatkan balasan dari Tuhan. Ahh...banyak sekali pelajaran dalam buku ini. Saya tidak menyesal menjadikan Tere Liye sebagai panutan saya dalam menulis. Bangga bisa menamatkan buku tebal ini tanpa air mata.

Bagian paling saya suka ada di ending kisah ini :
"Dua tahun lalu ada seseorang yang bertanya padaku tentang, jika berkata jujur akan membuat empat orang jahat terbunuh mengenaskan, sedangkan berbohong akan membuatnya selamat, maka pilihan apa yang akan anda ambil? Kamu tahu apa jawabanku? Jawabanku adalah : aku bahkan bersedia memilih mati bersama dengan empat orang jahat itu demi menegakkan kebenaran."

Selain dari Lastri, saya juga menemukan pelajaran dari Zaman.
1. Kalau suka, bilang! Jangan ditunda terus, bersegeralah.
2. Membiarkan orang lain menanggung kesalahan mereka sendiri. Sesekali, kita harus tega agar mereka jera.
3. Jangan takut membela kebenaran dan keadilan.

Selamat membaca ^^

You May Also Like

0 comments