Serba Pertama Part.5

by - Januari 06, 2017

Final story.
Yup, ini adalah penggalan cerita terakhir selama saya di bali.
Berangkat 15 Desember 2016 dan pulang 5 Januari 2017. Lama ya, makan waktu setahun. Hahaahha
Sehari sebelum saya pulang, kak Asgar dan kak Irmi mengajak ke Pasar Seni Sukawati. Kalau sebelumnya saya mengatakan kalau di jalan Legian semua barang ada, disini apalagi. Pasar Seni Sukawati terletak agak jauh dari rumah, saya jadi merasa tidak enak karena harus diantar sejauh itu, kak Asgar tidak kerja dan kak Irmi yang sedang hamil besar.
Di Sukawati, kami belanja beberapa barang, sarung bali tentu saja. Sepatu, sandal, aksesoris, dan lain-lain. Borong! Bohong deh! Uang yang saya bawa tidak banyak. Dan.....rasanya ingin membeli semua barang disana. Topeng bali, dream cather, sepatu lucu, tas, handbag, totebag, pajangan kayu, pernik kaca, lukisan, ya Allah...... Mata saya berbinar terang sekali! Meski hanya sebentar di Sukawati, tapi saya menikmati semua keadaan dan pemandangan serta suasananya. Setiap orang punya cara untuk hidup, bukan dengan mengemis. Itulah yang saya saksikan ditempat ini. Kapan-kapan saya akam berkunjung kembali. Dari Pasar Seni Sukawati, kak Asgar membawa kami ke sebuah pantai, saya lupa namanya apa. Di sana, pasirnya hitam, ombak pun tinggi, dan langit sangat cantik. Mendung-mendung cantik.
Pulang dari sana, kami menjemput abang Zein dan ade Nauval di sekolah dan perjalanan kembali dilanjutkan. Kak Asgar tidak melupakan janjinya, ia membawa saya ke hutan mangrove. Jika ingin bepergian siang-siang, lebih baik ke mangrove karena disana sangat sejuk.
Karcis masuk Rp 10.000 per orang (dewasa), anak-anak tidak membayar. Keren sekali! Papan-papan kayu yang tersusun rapi membentuk jembatan, menuntun perjalanan kami memasuki hutan mangrove. Kalau di Barru (pulau Pannikiang yang merupakan hutan mangrove) pohonnya agak pendek, tapi di sini pohonnya tinggi menjulang. Sebagaimana halnya mangrove, akar-akarnya besar, kuat mencengkeram ke dalam tanah. Mungkin karena sudah lama, beberapa bagian jembatan sudah mulai lapuk, tapi tetap kokoh ketika kami menginjaknya. Kami berjalan dan sesekali menemukan kadal kecil, dan bangau putih.
Tiba ditengah, terdapat menara dengan tinggi sekitar 10 meter dan jalanan yang bercabang. Satu jalan menuju ke tepi mangrove,  dan satunya jalan pulang. Ternyata menara itu adalah titik pertemuan jalan keluar, atau yang memilih melanjutkan perjalanan. Saya memilih lanjut, dan yang lainnya memilih duduk sebentar dan berjalan keluar. Saya berkelana di mangrove sendiri, beberapa kali bertemu pengunjung lain. Foto-foto sendiri, hunting sepuasnya sampai ponsel saya lobet total, baru saya berjalan keluar hutan.
Lelah, capek, tentu saja. Tapi terbayar dengan kepuasan batin, kepuasan mata. Setelah itu kami pulang dan makan di warung. Saya makan bakso, tentu saja. Tapi mengenai rasa, saya masih lebih suka bakso di Soppeng dan di Makassar.
Kamis, 5 Januari 2017 pukul 15.30 sore, saya diantar ke bandara oleh kak Irmi dan kak Asgar. Anak-anak punya jadwal mengaji. Jadi hanya kami bertiga. Sepanjang perjalanan saya mengenang banyak, tepat tiga minggu saya di bali. Dan hari ini saya pulang. Ahh... Waktu cepat sekali berlalu.
Bandara Ngurah Rai sangat megah, cantik. Saya salim dengan sepasang suami istri yang sangat baik ini, dan segera melangkah ke pintu masuk. Ramai!!! Beruntung petunjuk arah dalam bandara sangat jelas, jadi saya dengan mudah melakukan check in dan menuju waiting room tanpa masalah sama sekali. Tigapuluh menit lagi pesawat berangkat, tapi karena ada masalah teknis (informasi yang saya dengar) maka pesawat yang seharusnya berangkat 17.30 mundur menjadi 18.20. Tidak apa, sunsetnya cantik ^_^ meskipun saya tidak duduk dekat jendela, tapi saya bisa melihatnya dengan jelas. Ahhh.....sunset di bali selalu cantik. Tidak usah heran. Di samping saya ada ibu-ibu dan anak perempuannya. Katanya dia orang Palopo. Cerewet, sotta, dan agak sombong. Hahaha.... Dia mengatakan sederet maskapai kesukaannya dan sering ia tumpangi selama ini. Maskapai sebelah katanya lebih baik dari ini, cuma karena harga tiket mahal, jadi akhirnya dia pilih penerbangan ini juga. Saya ingin tertawa, tapi itu tidak sopan kawan. Pesan untuk teman-teman saya yang perempuan khususnya, JANGAN JADI IBU-IBU SEPERTI ITU. Membanggakan hal yang tidak perlu. Dan katanya lagi, dia tidak bisa kalau panas. Daaaaaannnnn penerbangan belum lama, dia kedinginan. Mau ambil sarung, tapi tasnya disimpan paling ujung. Sumpah kali ini saya ingin tertawa, tapi tidak jadi lagi. Karena sepertinya semua orang kedinginan. Untung saya menggunakan sweater kebanggaan (INFINITE 92 MYUNGSOO) HAHAHA....
Oh iya, di belakang saya ada tiga cowok yang mengenakan celana pendek, saya yakin mereka kedinginan. Sok tegar saja terus, perjalanan kita hanya 1 jam 10 menit. Ahh.... Bandara Sultan Hasanuddin, segeralah terlihat.
Pukul 19.23 akhirnya kami tiba. Sudah malam dan untung tidak hujan. Saya mengantuk dan segera mencari taxi. Sungguh terlalu, saya pergi dan pulang dari bali tanpa diantar dan dijemput. Yeah, anak mandiri dan pemberani memang begitu. Tiba di kost, saya ingin tidur tapi karena kedua saudara saya, Megh dan Yuki membongkar koper, kantuk saya hilang.
Ahh.... Liburan kali ini daebak!!!!
Seru, mendebarkan, menyenangkan!!
Tapi tahu apa yang kak Asgar katakan ketika saya pamit, "Maaf dek, nda maksimal liburanmu."
What???? Sudah sekeren itu masih dibilang tidak maksimal? Hahaha... Saya tidak tahu bagaimana parameter maksimal yang kak Asgar maksud. Jelasnya, katanya masih banyak sekali tempat yang belum saya kunjungi. Ya, dan lebih dari apapun  saya ingin ke Ubud. Jebal, sekali saja!
Terima kasih 2016
Selamat datang 2017
Terima kasih Bali dan semua cinta dan pesonamu.
Saya berharap bisa kembali ke sana. Amin
END~~~

You May Also Like

0 comments